Semoga Alloh meridloi segala langkah umat Nya. Luas akan maaf dan ampunan Nya. Semoga ide borobudurcorner.com ini, bermanfaat untuk masyarakat, bangsa dan negara.
Hidup adalah kegelapan
jika tanpa keinginan,
Dan keinginan itu adalah buta,
jika tidak disertai pengetahuan,
Dan pengetahuan adalah hampa,
jika tidak diikuti pelajaran,
Dan setiap pelajaran akan sia-sia,
jika tidak terbesit cinta,
tiada makna persahabatan di dalamnya.
Jiwaku berkata padaku,
dan menasehatiku,
agar berteman dengan yang memfitnahku,
dan mencintai orang yang membenciku.
Ketika satu pintu tertutup,
Sementara pintu lain terbuka;
Kadang kita melihat dan menyesali pintu itu terlalu lama;
Hingga terlambat memasukinya.
Sering kita melihat peluang dari suksesnya orang lain.
Alloh hanya memanggil Hamba Nya 3 kali,
Kali pertama ada di setiap Adzan bergema,
Segeralah beranjak Sholat untuk menjawabnya.
Kali kedua adalah saat Umrah dan Haji,
Berteriaklah Labbaik Allohumma Labbaik!!!
Panggilan terakhir adalah kematiannya,
Tak satupun tahu di bumi mana akan dijemput,
Tak seorang pun mampu mengawalkannya
Tak sedetikpun dapat mengakhirkannya
Maka bersiaplah selalu
Karena bisa jadi setiap saat kita dekat dengan kematian itu.
Kepada Pak Khamin, Mas Yona, Pak Guntur, Mas Ukhid, Mbak Ika, Mbak Zum, Mbak Neni, juga orang-orang lama; Pak Hery, Pak Gany, Pak Gito, Pak Djanu, Pak Bambang Yoyok, ...o ya Pak Daryono. Tidak lupa tetangga Kebudayaan, Mbak Etik, Bu Marsih, Bu Ngaidah, Pak Budi, Pak Pono, Bu Titik, Pak Marno. Lah lupa .... , Mbak Tri juga, Mas Munir, Pak Sudief, Ibu Asri, Pak Arif, Bu Heny, Ibu Sri, Ibu Sri satunya. ... Pak Yani juga, dan siapa saja yang belum sempat kami tulis .... we love all of you!
Pak Budi Utomo...truly the best guide in Borobudur.
Kepada Pak Iqbal, selamat bekerja. Jadikan pengalaman tahun-tahun lalu sebagai pijakan. Tidak mudah membangun sebuah IT. Web www.magelangkab.go.id yang didanai dengan uang rakyat jauh lebih besar daripada web borobudurcorner, juga belum bisa menembus dunia maya secara terhormat.
Kepada pemegang kebijakan lainnya, pariwisata seni dan budaya adalah satuan yang tak terpisahkan di karakteristik Borobudur dan Magelang. Pembangunan tidak mungkin berhasil tanpa adanya INTEGRITY (keterlibatan semua stake holders) dan SUSTAINABILITY (keberlanjutan). Visi membangun hubungan yang lebih baik antar sesama, memperbaiki kualitas hidup masyarakat SETEMPAT dan menjaga kelestarian lingkungan hidup adalah harga mati visi pariwisata KONVENSI GENEWA yang telah terlupakan. Mungkin bisa saja membangun sebuah cafe megah yang penuh pengunjung. Bahkan bisa juga memindahkan borobudur yang agung dalam sebuah tarian gombal. Tetapi pembangunan itu tiada arti bila dimulai dengan penebangan pohon rambutan yang tidak salah. Pohon yang telah memberikan buah kepada sekian banyak insan. Dia tidak salah, tidak pula menciderai indera kita. Subhanalloh, engkau akhirnya juga mati berdampingan dengan sebuah visi yang mati sebelum berkembang.
Perjuangan dimana rakyat menjadi musuh, pendatang menjadi gunjingan, investasi shodakoh dikira kapitalisme, telah kami lalui. Tower yang kami dirikan diancam dirobohkan. Komputer diancam dicuri. Segala kata dimaknai kesombongan. Teori ilmiah diartikan hinaan. Kritik dan saran dikira kudeta. Bertanya dianggap demo. Semua telah kami jalani. Dan dunia seakan runtuh. Tulang tak mampu menyangga untuk berjalan. Kami harus berpisah dikala misi diterima masyarakat. Teringat petuah Imam Asy Syafi'ie, "Jangan pernah bertanya siapa nama kami, dari mana kami berasal dan kemana kami melangkah. Karena bila kami sebut suatu nama, engkau akan memberikan arti yang lain dari makna yang sebenarnya".
Sungguh manusia itu RUGI ... RUGI DAN RUGI. Kecuali yang melangkah dengan Iman dan kebaikan. Dan teguh memperjuangkan yang benar. Tetapi Alloh lebih suka orang yang diatasnya ... yaitu WATAWAA SHOUBIS SOBR.